SEJARAH SENI SUARA BACA AL-QUR'AN


Dalam kitabnya Lisanul ‘Arab jus 19 halaman 376, Ibnu Manzur menerangkan bahwa sejarah  asal mula lagu Al-Qur’an ada dua pendapat. Pertama, mengatakan bahwa lagu Al-Qur’an itu bersal dari nyanyian budak-budak kafir yang tertawan ketika perang melawan kaum Muslimin. Dan pendapat kedua mengatakan bahwa lagu Al-Qur’an itu berasal dari nyanyian nenek moyang bangsa Arab. Selanjutnya nyanyian bangsa Arab tersebut digunakan untuk melagukan Al-Qur’an. Sampai di sini terjadi kekaburan tentang siapa yang yang memindahkan nyanyian tersebut kapada melagukan Al-Qur’an.

 Dengan demikian terdapat dua persoalan dalam sejarah lagu Al-Qur’an. Pertama adalah tentang asal mula lagu Al-Qur’an, dan yang kedua tentang orang pertama yang memindahkan nyanyian itu menjadi lagu Al-Qur’an.

Kalau memang betul bahwa lagu Al-Qur’an itu berasal dari nyanyian, maka tentu dapat dirumuskan. Hal ini diakui kebenarannya oleh sebagian besar para musisi, tetapi tidak semua lagu dapat dirumuskan ke dalam not balok, termasuk lagu-lagu Al-Qur’an. Hal ini disebabakan karena dalam lagu Al-Qur’an terlalu banyak pecahan suaranya.

Muchsin Alatas misalnya, beliau mengatakan bahwa not balok tidak dapat membantu dengan sempurna untuk mempelajari lagu-lagu Al-Qur’an, karena lagu-lagu Al-Qur’an mengandung perasaan yang sangat dalam.. Begitu juga dengan Anis Shahab, salah satu vokalis group musik gambus La Tansa juga mengatakan hal yang sama.

Sedangkan menurut KH. Mukhtar Luthfi Al-Anshori, mengatakan bahwa lagu-lagu Al-Qur’an tidak dapat dirumuskan ke dalam not balok karena lagu-lagu Al-Qur’an bersumber pada perasaan dan dibantu oleh alat musik biola (penataran Dewan Hakim MTQ DKI 1981).

Rosulullah Muhammad SAW adlah seorang Qori’ yang mampu mendengungkan suaranya tatkala membaca Al-Qur’an. Suatu ketika Beliau pernah mendengungkan suaranya dengan lagu dan irama yang sangat memukau kasyarakat ketika itu. Abdullah bin Mughaffal menggambarkan suaranya menggelegar, bergelombang, dan berirama sangat indah sehingga unta yang dinaikinya terperanjat (salah satu ayat yang dibaca adalah surat Al-Fath).

Di kalangan para sahabat ada juga Qori’ kenamaan kesayangan Rosulullah SAW, yaitu Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ary. Hal ini dapat dibuktikan dengan sabda Beliau :

Abdullah bin Mas’ud berkata, Rosulullah SAW bersabda : “Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku”, lalu Ibnu Mas’ud menjawab,”Apakah saya juga harus membacakan, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?”,Rosulullah menjawab, “Ya”, Lalu aku (Abdullah bin Mas’ud) membaca surat An-Nisa’ , sehingga setelah selesai pada ayat fakaifa idza ji’na min kulli bisyahidin wa ji’na bika ‘ala haa’ulaai syahiida Beliau berkata “Cukup,sampai disini saja”. Kemudian saya menoleh kepadanya, tiba-tiba matanya bercucuran air mata.

Dan sabda Beliau :

Dari Abi Nusa, dari Ayahnya berkata, pada suatu ketika Rosulullah SAW berkata kepada Abu Musa, “Wahai Abu Musa, semalam aku telah mendengarkan bacaan Al-Qur’anmu”, kemudian aku (Abu Musa) menjawab : “Demi Allah andaikata aku tahu bahwa engkau mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu, niscaya akan aku bagyskan lagi bacaan Al-Qur’anku.” Imam muslim yang meriwayatkan dari Tholhah menambahkan “Sesungguhnya engkau telah di anugerahi sulin (suara yang bagus) dari keluarga Nabi Daud AS.

Beberapa hadits diatas menunjukkan bahwa betapa indahnya pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, baik dari segi lagu maupun artinya. Begitu juga terhadap kedua sahabat yang begitu bagus bacaannya.

Hal yang demikian ini menunjukkan bahwa sejak zaman Nabi SAW dan sahabat, membaca Al-Qur’an dengan lagu yang merdu sudah ada dan bahkan dianjurkan oleh Nabi. Pada masa Tabi’in banyak juga Qori’-qori’ yang mampu memukau ummat pada masa itu. Namun sampai periode ini masih kabur tentang nama-nama lagu-lagu yang didengungkan pada saat itu. Kekaburan itu tetap menjadi tantangan sampai saat ini. Di antara Tabi’in yang termasuk Qori’ adalah Umar bin ‘Azis. Hal ini dikatakan oleh Ibnu Musayyab dalam kitab Al-Ghoyah Wan Nihayah. Selain itu ada Safir Al-Alusi (314 H), dia terkenal sebagai Qori’ yang cerdas dan dermawan.

Adapun Qori’-qori’ dari kalangan Tabi’it tabi’in, antara lain Abdullah bin Ali bin Abdillah Al-Baghdadi. Ditegaskan oleh Ibnu Jauziq, bahwa ia termasuk Qori’ yang tidak ada tandingannya pada masa itu, baik suara maupun lagunya.

Selain itu ada pula Kholid bin Utsman bin Abd Rohman (715 H0. Dikatakan oleh Sahlawi bahwa dia termasuk Qori’ yang tiada tandingannya ketika melagukannya diatas panggung. Selain itu ada Qori’ yang tidak kalah hebatnya apabila dibandingkan dengan para Qori’ tersebut.

Demikian sekelumit tentang sejarah perkembangan lagu Al-Qur’an semenjak zaman Rosulullah SAW sampai pada Tabi’in dan Tabi’it tabi’in.

 

Sumber : http://zulfikarhot.wordpress.com/

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

 
© BUDAYA SENI DALAM ISLAM | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger